Friday, April 4, 2014

Bragging to keep me motivated!

Ya ampun gue dulu lolos UM UGM ke jurusan inceran: Hubungan Internasional! Masak tes USM D IV aja gue udah 2x nggak bisa mulu. Padahal soal UM UGM jauh jauuuhh lebih susah dari USM STAN waktu itu. Harusnya gue juga bisa dong lolos D IV taun ini!!!

Bismillah..

Doa

Dalam kurun waktu setahun ini Allah mengabulkan doa-doa ku satu per satu secara nyata. Begitu berdekatan waktunya hingga gak mungkin gak kerasa. Dari doa supaya suami bisa keluar dari Bontang. Minta diberikan kesehatan dan kemudahan dan kelancaran selama hamil. Supaya bisa melahirkan dengan mudah, cepat, dan nyaman. Baby lahir dengan sehat. Doa agar bisa pindah ke Jawa, homebase di Jawa dan alhamdulillah diberikan mutasi ke Jakarta berkaitan dengan open recruitment. Dan yang paling akhir ini doa agar suami juga dipindahkan ke Jakarta. Alhamdulillah terkabul semua. Semakin dekat dengan keinginan agar bisa segera tinggal serumah bertiga. Aamin.

Dosa namanya kalo sampe sekarang masih nggak bersyukur. Allah selalu memberi yang terbaik, saat apa yang kita inginkan telah dikabulkan, berarti itu adalah yang terbaik menurut Allah. Memang masih ada permintaa-permintaan yang belum dikabulkan, tapi percaya aja, semua ada waktunya.

Untuk saat ini, yang ada sekarang adalah yang terbaik. :')

Monday, March 31, 2014

Balikpapan. Atas 4 tahun yang menyenangkan.

Salah satu alasan yang membuat kita mencintai suatu tempat adalah orang-orangnya. Seberapa pun jauhnya dari Semarang, Balikpapan adalah rumah juga untukku selama lebih dari 4 tahun, dan itu nggak terlepas dari keluarga kedua yang kumiliki: teman-teman.

Bahkan seandainya bisa tinggal sama suami disana, udah kepikiran aja buat beli rumah dan menetap di Balikpapan. Sempet muter liat-liat rumah juga. Selain kotanya nyaman, suasana kantor juga bikin nyaman karena banyak temen yang nyambung.

Memang ya, kunci biar bisa betah, apalagi hidup sendiri, gak bareng orangtua, sodara, suami ya punya banyak temen. And to clarify, i decided to left Balikpapan just because i feared that i could got moved out to another city that didnt as wonderful as Balikpapan. And that means i would separated further from my husband in Tarakan. So i thought i'd better took any opportunities available to get me back to Java.

Maybe this would be my proper good bye to make it immortal. To always remind me that i once had a wonderful life in Balikpapan because of my friends. Thank you very much.

Last Friday there were news that most of my friends remained in Balikpapan gotta move to another cities. Further from Balikpapan, even from their own families. So long, my friends. All the best of luck for you, my family.

Tuesday, March 25, 2014

On Indonesia's (specifically: Jakarta's) mass transportation.

1. Trust the kenek. Kalo dia bilang masih muat, trust him. Go inside that bus. Sepenuh apapun sampe semacam pindang kayak apapun kalo dia bilang muat pasti muat.

2. No need to queue. Your kind heart and your idealism and your good intention will hurt.

3. You better have your breasfast before catching your morning bus. Unless you want gladly pass out inside the bus.

4. Put your bag in front of your body. You just don't want to blame yourself for being careless and become phone-less after that.

5. No need to wear mask. Unless you were sick. We're not in Japan.

6. Sad but true, you better bring a shirt to change after you reach your destination. Too many smell will stick in your clothes. You just don't know if it's a bad one.

4. Some people just don't understand that some ways isn't for them. That people enjoyed some education as well. And have money that they choose not to throw themselves into mass transportation.

5. That makes what so called "bus way" not only for bus.

6. So thank you for making us don't get what government said about value time of money by using mass transportation. And what they said about helping reduce traffic.

7. It's healthy, you know, talking a walk from one shelter to another. I don't complain.

8. Don't they even realize that helping the bus way sterile > the bus can go faster > passengers are happy for not being late -and for not being a fish in a fishnet for too long- > a lot of people choose the bus instead of using their own car/motorcycle because it's clearly faster and traffic-free > voila! traffic' s reduced.

9. Oh i think we all know. We're just not ready to be part of that kind of society. Yet.

Wednesday, March 19, 2014

Penting banget gadget lo?

Been officially become Jakartan since early of this year, i can't help but wondering: penting banget gadget lo?

Been using mass transportation for i haven't bring any transportation mode yet, i notice that even when they are inside TransJakarta or i will say, bus, in a condition that i can't bear for more than an hour, they still manage to put their gadget in hands and operate it. No such critical or emergency condition. Just checking Path or playing games or chatting or even for the simplest use of gadget: listening music. I just don't get it. They are not sitting down. We usually standing in rush hours inside the bus. So very close one another you can smell the sweat of people standing next to you. Blah.

Don't they fear robbery? Or their gadget may fall while they step into the bus? I guess Jakartans are so brave.

One for sure, if you still be able to put your gadget in your hands, your space in that bus is not full enough. You still easily move. So move your hands off and give another passenger space.

Tuesday, November 12, 2013

Freya: Birth Story

Freya Zahra Kikandrya Yusrizal
Tengah malam nanti tepat satu bulan usianya. Cepet banget ya. Sehat terus ya, nak. Jadi anak solehah, pinter, kebanggaan semuanya. Aminn. Masih inget banget kronologis kelahirannya bulan lalu. Dimulai dari Sabtu 12 Oktober 2013 pagi pas bangun tidur perut kerasa mules banget. Bleeding pula tapi gak banyak. Tapi tetep jalan pagi kayak biasa sama suami, abis itu nyempeti juga dengerin panduan hypnobirthing mawar merekah. Baru kali ini dengerin yang seri ini karena takut bikin kontraksi sementara belum pengen lahiran. Hehehe. Kalo sekarang sih udah siap ya secara udah 38 minggu jalan 39 minggu.

09.00 wib. Senam hamil ditemenin suami di RS -RS yang dipilih buat senam dan lahiran nanti adalah Bunda Maternity Hospital Semarang-. Setelah senam nyempetin nanya sama pengajarnya yang juga suster di RS itu, katanya santai aja. Nanti ke RS pas udah kerasa kontraksi tiap 5 menit atau gampangnya pas kontraksi bikin gakbisa ketawa-ketiwi. Nyantailah kita dan bablas ke Nagatomi dulu belanja botol kaca ASIP -botol kaca disini paling murah daripada dua toko bayi langganan, hehehe-, lanjut makan siang juga berdua. Selow banget pokoknya hari itu mengingat kontraksi masih kayak dikitik-kitik. Hahaha. Sampe rumah pun masih enak bobo siang dan ortu belum diceritain apa-apa sama sekali, cuma dikit-dikit bilang siap-siap aja kalo cucunya lahir hari ini. Hihihi.

Udah optimis banget gitu ceritanya. Soal optimis ini sebenernya karena udah yakin banget baby bener-bener bisa diajak kerjasama. Dari sejak beberapa hari sebelumnya udah komunikasi terus ngajakin lahiran antara Sabtu 12 Oktober 2013 atau Minggu 13 Oktober 2013. Kenapa? Karena mau long weekend dan si Calon Ayah ke Semarang hari Jumat 11 Oktober 2013 malem dengan niat bablas ngabisin cuti. Kalo baby lahir sesuai HPL 19 Oktober 2013 berarti udah sayang cutinya seminggu. Jadi minta deh sama baby paling gak kasih clue di hari Jumat atau Sabtu dan lahir di hari Sabtu atau Minggu. Clue udah diperoleh hari Sabtu jadi tinggal nunggu lahirnya aja. Hehehe.
Malemnya nonton pertandingan Indonesia-Korsel, asik komen sana sini trus kerasa kontraksi udah jadi 5 menit sekali tapi masih bisa ketawa. Mempertimbangkan daripada nunggu bener-bener gak bisa ketawa takutnya udah kemaleman yowes jam 21.00 berangkat ke RS. Toh kalo belum waktunya ya nanti balik rumah lagi.

21.30 wib. Nyampe RS dan diperiksa suster ternyata udah bukaan 2 tapi kepala bayi udah turun banget jadilah langsung opname. Setelah administrasi ini itu mulai deh kontraksinya bikin gak bisa ketawa tapi masih kuat nyalain iPod dengerin panduan relaksasi hypnobirthing sambil dielus punggung sama nyokap sama suami.

23.00 wib. SPOG yang dipilih buat lahiran di Semarang adalah dr. Binarso tapi ternyata malam itu dr. Binarso berangkat ke Jakarta, SPOG yang jaga malem itu dr.Arufiadi yowes sembarang siapa aja deh. Ternyata kata susternya dr. Aruf masih sodara sama dr. Bin, ponakan gitu katanya. Eh ternyata dokternya kok ganteng. Hihihi. Jadi jam 23.00 itu dokternya visit, periksa dalam masih bukaan 2 tapi udah tipis sekali. Instruksi ke suster nanti kalo udah gak kuat dibawa ke ruang bersalin aja. Dokternya pergi eh ini kontraksi jadi parah banget. Subhanallah ya bok rasanya. Itu perut kayak diperes dan gak bisa dihindari. Pas kontraksi dateng rasanya kayak "waaa.. it's coming.. nooo..". Gitu deh. Nyokap ngelusin punggung masih aja sakit. Suami nunggu diluar kamar karena kamar kelas 1 nya lagi full jadi malam itu sementara di kelas 2 yang isinya 2 orang. Sempit sama gak enak juga udah malem ini.

Saking tiap kontraksi udah bikin gak tenang, dipanggillah suster trus dibawa ke ruang bersalin. Jarak 3 kali koprol aja udah pake kursi roda. Di ruang bersalin udah gak malu-malu bersuara mumpung sepi. Hehehe. Ampun itu sakitnya gakbisa dideskripsiin. Sampe ada suster nemenin -selain Nyokap- kutanyainlah,
"ini udah bukaan berapa?"
"bukaan 2"
"mosok sakitnya kayak gini masih bukaan 2?"
"iya bu"
"kalo bukaan 2 aja kayak gini aku minta epidural ajaaa"

Ih serius aku ngomong gitu di sela-sela kontraksi. Saking gak kebayang masih ada 8 bukaan lagi bakal kayak apa sakitnya. Gak lama dari percakapan tadi kerasa ada yang mau keluar. Susternya bilang,
"jangan ngeden, bu"
"aku gak ngeden ini ada yang mau keluar, aku gak ngeden"
Ih aku ngulang-ulang ngomong gitu lho. Kayak gak terima gitu. Kayaknya aku pasien yang menyebalkan. :p Karena kontraksi jadi gak ngeh abis ngomong gitu suasana yang hening tiba-tiba rame, susternya nambah banyak, peralatan dibawa mendekat. Kubilanglah,
"rasanya ada yang mau keluar"
"iya, bu itu ketuban"

Pas melek lah kok rame. DSOG nya juga udah ada. Trus ada suster bilang buat jangan merem, jangan angkat bokong, ngertilah kalo itu instruksi buat mengejan. Iyalah paginya abis senam hamil jadi masih fresh. Sekali mengejan langsung legaaaa. It's a girl. 2500 gram/46 cm. Keliatan my baby pas agak diangkat sama dokternya abis keluar. Meringkuk dan mungil. Huhuhu. Akhirnyaaaaa.
Langsung IMD dan pas baby ditaro di dada pas dianya pup. Anak pinter. :D Sambil IMD sambil dijahit -digunting sama DSOG nya, bener-bener gak kerasa pas digunting, kalah deh rasanya sama kontraksi, hohoho, tapi ngejahitnya untung pake bius- sambil nanya-nanya sama DSA. Apgar nya 8-9-10. Pas besoknya nyokap cerita kalo ketubanku keluar duluan tapi belum pecah jadi masih kantong gitu trus dipecahin baru babynya keluar. Pas baby keluar pun ternyata ada lilitan 1 kali di leher. Alhamdulillah gakpapa ya.

Jadi ternyata baby lahir jam 00.15 wib jadi udah masuk hari Minggu 13 Oktober 2013 dan akhirnya nyokaplah yang nemenin lahiran. Pikirku kontraksi bakal lama karena masih bukaan 2 dan nanti pas bukaan udah gede mau minta suami yang masuk nemenin lahiran -pendamping persalinan diperbolehkan tapi hanya satu orang aja- tapi ternyata gak kesampean karena dari dokter visit sampe lahir cuma sejam. Hehehe.
Alhamdulillah kesampaian lahiran cepat, mudah, nyama dan sesuai tanggal yang diinginkan. Ngobrol terakhir sama baby dalem perut itu pas lagi di kamar mandi sebelum dokter visit, bilang sama baby ayo kerja sama, sama-sama berjuang biar cepet ketemu, biar lahirnya cepet aja, yang gampang aja. Alhamdulillah amazing banget kalo diitung dari masuk RS jam 21.30 sampe jam 00.15 berarti sekitar 2,5 jam dari bukaan 2 sampe lahir. Bahkan bukaan 2 bertahan sampe jam 23.00. Alhamdulillah dimudahkan semuanya. Kao lahirannya bisa gini lagi ayok deh jadi kita bikin anak 3. Hahaha. Tapi kudu lebih berlatih lagi nih hypnobirthing-nya soalnya  masih keceplosan minta epidural. Hehehe.

So that was my Freya's birth story. One of my greatest moment in my life. :*

Sunday, September 22, 2013

36w, progresses and thoughts..


Jadi di kehamilan 36 minggu ini lagi rajin ngelus-ngelus perut, ngajakin ngobrol baby terutama biar cepet kepalanya di bawah dan masuk panggul, dan lagi rajin marathon Game of Thrones season-season awal. Hahaha. Niatnya mau rajin-rajin renang sama jalan kaki tapi ya gitu deh. Abisan mau renang gak mungkin keluar sendiri, gak enak juga minta anter mulu. Jalan kaki tiap pagi kudu rajin digalakan sekaligus mengusir kebiasaan bumil satu ini yang doyan bangun (agak) siang. Kemaren sih udah berhasil jalan pagi dengan tujuan utama beli bubur di pengkolan. Hihihi.

Meneguhkan hati buat gak beli birthing ball/gym ball karena sayang duitnya, makenya pun (mungkin) cuma beberapa minggu menjelang kelahiran dengan berharap penuh pada komunikasi dengan baby untuk muter dan persalinan yang nyaman. Latihan relaksasi dari kelas hypnobirthing juga kudu lebih rajin lagi. Jujur berharap banget bisa dapetin manfaat hypnobirthing nanti pas persalinan. Karena gimana ya, takutnya nanti kalo prakteknya pas persalinan gagal rileks bisa-bisa minta SC saking gak kuatnya sakit. Duh pengen deh bawa mbak Neny (praktisi hypnobirthingku) buat jadi doula pas persalinan nanti. Huhuhu.

Tentang hal-hal yang selama ini dibaca dan didengar dan dipelajari dari berbagai sumber selama hamil, beberapa temen punya prinsip-prinsip tertentu macam “udah pokoknya SC aja kalo ada indikasi baby kenapa-kenapa” atau prinsip “anak gue ntar pake pampers aja kagak usah ribet pake clodi”, atau juga “baby dikasih botol aja biar gak ribet”. Balik lagi ke kenyamanan masing-masing indvidu sih, nah makanya pengen bahas ini nih. Contohnya:

Keinginan utama jelas bisa lahiran normal. Untuk alasan seperti takut kalo SC bisa-bisa gak bisa IMD karena satu dan lain hal yang berhubungan dengan operasinya, takut sakit pasca operasinya, perawatan pasca operasinya juga. Berharapnya lahiran normal aja, sakit sekalian tapi cepet sembuhnya, bisa segera IMD trus bisa cepet kecil perutnya. Hahaha.

Ngomongin soal ASIP nah ini belum beli botol-botol ASIP, antara masih nyari yang murah sama masih dilema males-malesan perawatannya yang kudu disteril dulu mengingat setidaknya dua bulan pertama bakal masih ketemuan tiap hari sama baby. Huhuhu. Udah beli cupfeeder Medela yang kecil itu dua biji tapi mikir lagi, Ya ampun segigih-gigihnya aku mau minumin pake cupfeeder tapi yang ngelakuin itu nantinya pastinya pengasuhnya bukan emaknya. Kalo sama emaknya kan langsung aja nemplok ke pabriknya terus pas utak-atik Medela Swing kan ada bonusnya nipple Calma, kepikiran deh. Ya udah pake botol aja yah, tujuan utama gak diminumin pake botol itu kan biar gak bingung puting yuk mari kita berdayakan dot yang bekerja seperti puting. Dan tampaknya Calma bisa mengatasi itu, nanti dites dulu kalo berhasil ya kita pakai botol dan dot Calma. Tapi di beberapa review ada juga kok merk-merk dot lain yang bisa bekerja ala-ala Calma gitu.

Talking about diapers, dulu jaman awal-awal hamil iya sih pengennya yang eco-friendly and so on and so on jadilah browsing-browsing cloth diaper (clodi). Browsing -> liat rekomendasi -> liat harga -> mahal -> menyerah. Hahaha. Gak berani gambling sih, ada yang bilang kalo yang murah atau lokal kualitasnya gak sebagus yang impor. Kualitas ini balik lagi juga ke cocok atau nggaknya pas dipake baby. Iya kalo ayem-ayem aja nah kalo iritasi atau gimana? Dan yaaaa.. urusan cuci mencuci itu ya. Kemaren barusan nyuci-nyuci segala perlengkapan bayi yang udah dibeli (calon eyang kakungnya sih yang nyuciin) dan itu banyak bener ya bok cuciannya. Kecil-kecil tapi buanyaaakkk. Kagak kebayang nanti kalo masih kudu nyuci clodi juga. Jadi untuk clodi dipikirkan lagi next time ya. Hihihi.

Box bayi. Beberapa berpendapat nggak perlu karena bayi kan enakan tidur sama ortunya. Apalagi kalo tengah malem bangun minta minum pasti malesin kalo kudu bangun dari kasur, nenenin, terus balikin lagi ke box. Tapi pertimbangan utama beli box bayi kemaren adalah: si Ayah gak mau anaknya tidur sama emaknya karena emaknya kalo tidur kayak kitiran (-_-“) sementara dia nya kalo tidur anteng sih. Huhuhu. Ya dipikir-pikir itu box bayi bisa dipake jadi play yard juga kok. Milihnya yang bisa getar, ada musiknya, ada sensornya juga (menghbur diri sendiri padahal fiturnya belum pada dicobain) :D Moga-moga my baby mau ya bobo di box nya, biar emaknya gak dilema antara udah kadung beli box bayi sama kebiasaan tidur kayak kitiran yang gak tau diobatinnya pake apa. Hehehe.

Soal jenis kelamin. USG dari 6 bulan gagal ngeliat dari depan karena selalu ditutupin sama si baby, jadi kakinya disilangin gitu. Akhirnya diintipin dari bawah dan karena tidak ditemukan “monas” jadi dengan sederhana disimpulkanlah bahwa perkiraannya cewek. Sampe ke USG berikutnya masih kayak gitu dan aku udah nyantai aja sembarang ini cowok apa cewek sama aja. Tapi kalo nanya feeling ya dari awal hamil sih feelingnya cowok. Sampe pas ikut kelas hypnobirthing sesi pertama diajarin komunikasi sama baby pake pendulum dijawablah sama si baby kalo dia cowok. Huaaaaa terus disuruh nyoba lai ditanyain di rumah, jawabannya masih laki-laki.
Karena masih excited banget, besoknya nanya lagi, dikasih pilihan diantara 2 nama yang udah disiapin. Nama cowok sama nama cewek. Milihnya nama cowok. Hahaha. Jadi ya kadang-kadang dipanggillah pake nama pilihannya dia. Gak tau apakah ini bener-bener akurat karena selama si baby belum lahir belum tahu yang bener yang mana tapi setidaknya mari kita percayai apa yang disampaikan melalui komunikasi dengan baby. Kalo salah pun ya gakpapa toh balik lagi, cowok/cewek sama aja, nama udah siap dua-duanya, perlengkapan bayi udah disiapin yang netral. Amaaaannnn :D.